Minggu, 20 September 2015
Aku
tidak tahu harus kumulai dari mana kisah ini kuceritakan padamu…
Hemmm…baiklah
aku mulai dari dia, dia siapa ? ya dia itu adalah kamu, kamu yang sedang
membaca cerita ini yang tidak lain adalah isi hatiku sendiri.
Setiap
manusia tentu memiliki rasa perasaan dimana manusia menjadi gila dibuatnya,
terlena akan keindahannya. Rasa ini merupakan anugrah yang diberikan oleh sang
maha pencipta untuk makhluknya. Itulah rasa
“cinta”, rasa “sayang” dengan makhluk lain.
Jika
Sang Pencipta cinta menghedaki maka rasa “Cinta” ini hadir tanpa diundang, muncul
tanpa direncanakan, mengalir mengikuti haluan. Laksana air mengalir menyusuri
haluan. Jika dibendung dia akan terus memaksa untuk mengalir, melalui atas,
samping dan bawah bahkan meresap kedelam tanah. Intinya dia akan terus
mengalir, tidak kan berhenti. Begitu
juga cinta, bagaimanapun jaraknya, kapanpun waktunya, dimanapun tempatnya dan
bagaimanapun kondisinya dia akan tetap bertahan.
Dan
kau…Arini, kau datang saat dengan penuh harapan, kau hadir dengan penuh
penyegaran. Bagaimana tidak, empat tahun aku menjalani kisah yang tak layak
disebut cinta, cinta yang salah. Dalam waktu empat tahun itulah kau berladang,
menanam benih. Tapi tak pernah disiram dengan air, tak diberi pupuk. Gersang
rasanya…arini.
Aku
seperti terjebak dalam kerja paksa, padahal itu ladangku. Setiap hari aku
merawatnya tapi tidak ada tanda-tanda kesuburan. Hasil nya pun harus kuserahkan
padanya. Hingga 4 tahun kemudian, aku memutuskan untuk membakar ladang itu,
hanguuuss…. Lalu diguyur hujan yang begitu deras. Lahan itu kosong…bersih tanpa
tanaman.
Sempat
terlintas aku tidak ingin menanam lagi. Aku lelah…sangat lelaaah.
Tiba-tiba…tanpa ada pengharapan, tanpa ada keinginan… kau datang membawa benih untukku
arini… kau datang dengan membawa satu biji benih. Kau memintaku untuk
menanamnya, merawatnya, menjaganya dari segala wabah hama.
Dan
kau katakan, “kang, ini benih untukmu meski hanya sebutir, tapi mudah-mudahan
bisa tumbuh besar, dan menghasilkan benih lagi untuk ditanam. Tapi aku tidak
bisa menjamin itu semua. Semua tergantung yang penguasa alam. Meski akang jaga,
akang rawat benih itu tapi kalau hama menyerang akang tidak bisa berbuat
banyak. Tapi satu pesan saya, jangan menyerah… terus jaga dan rawat benih ini.
Jika niat baik untuk merawat benih dan membesarkannya, mudah-mudahan akang dan
saya bisa bersama sama menikmati hasil dari benih ini. Kita duduk bersama di
gubuk sambil menikmati indahnya sinar matahari, sejuknya embun pagi, hijaunya
bibit padi.
Ooohhh…
indah nian arini…, kau ajak aku menanam bersama, membuang rumput-rumput yang
menganggu benih itu. Indaaaah rasanya…
Tapi
aku takut…aku takut kau juga akan memberikan benih pada yang lain. Aku tidak
rela arini..tidak. tapi engkau membalas dengan senyum dan berkata, “aku tidak
memberikan kepada siapapun kecuali kamu kang,” asal akang rawat dan jaga
baik-baik benih itu. Buang rumput-rumput , hama-hama yang menganggu benih itu,
benih kita …
Saat
malam datang, pikiranku melayang…aku takut, aku khawatir…arini. Dipertengahan
jalan aku menanam benih itu, hama menyerang atau pencuri mengambilnya. Aku
takuuut….
Hanya
satu jalan…aku harus merawat, menjaganya dengan sepenuh hatiku, ragaku…doaku
mala mini, “semoga benih itu tumbuh dan memberikan hasil yang dapat kita
nikmati bersama, berdua diatas gubuk itu. Kita bercerita, hidup bersama-sama
dan menanam benih baru untuk anak cucu selanjutnya.
Arini…jangan
kau biarkan kau sendiri dengan benih yang layu….apa jadinya aku nanti…
Arini…,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar