Kamis, 17 September 2015
10 Oktober 2011, sampai saat ini dan kapanpun tak kan bisa kulupa,
hari yang membuat air mataku jatuh dan seakan ingin terus keluar,. Sekitar Pukul 12.20, Handphone ku berdering, aku baru saja habis
mandi, kulihat, Ibuku menelepon, kuangkat.
Aku : Au buk sehat, makmane kabar kamu ? aba[3] ? ,
Ibu : Sehat gale[4] kami,
Ibu : sehat, ape gawe ngan ?
Aku : Katek[7], mpei sude mandi, nak
makan
Ibu : au mandi, engke dekde angat dalam, makan, men hase lapah
mbeli ruti
Aku : Au buk,murah disini makanan
Ibu : au,
iloklah[8]
men maki tu, sep ibu elom ngihemi duit untuk ngan, mingggu depan, duit dipakai
untuk adek[9]
kudai, untuk bayaran SPP adek
Ibu : au,
syukurlah, hemat hemat duit, nak ibu abas are nyakah[12]
duit, belajah rajin rajin, hala lok[13]
aba dengan ibu, nakok[14],
kinak adek ngihem surat, die minta maaf dengan ibu galak melawan ibu, die
bejanji dekde mungil[15]
agi, men die la berhasil kagi, nak ngajak aba dengan ibu naik haji, cite cite
nye nak ke london . ngan belajah la rajin rajin, hala pikirkan aba denga ibu, nangkela[16]
aba dan ibu sare[17]
asak ngan dengan adek berhasil, sekolah tinggi tinggi, ye sude yee, assalamu’alaikum
wr.wb
Aku : wa’alaikum salam.
Tak ada firasat apapun hari itu, semua
nya biasa saja, langit cerah, panas sinar matahari menyengat kulit, aku tak
menyangka bahwa itu suara untuk terakhir kalinya kudengar kawan…
Pukul 04.50 an, telpon berdering
kembali, kulihat ponsel, cak[18] Lus
menelepon, kuangkat,
“sep, ngan la
pacak dekde, ibuk ngan la sekarat, masuk angin,
uhang la rami dihuma ngan[19]
… ‘’
Aku tidak mengerti, kaget, dan tidak
percaya, serasa ada petir menyambar hari itu, telpon terputus. Aku langsung
menelepon ke rumah,
Ya
hallo, tanpa basa basi
aku langsung bertanya, “ makmane ibuk ba ?
“ ai sep. ibuk masuk angin, lom sadar
ndei tadi, bedo’a yee,
ayahku menjawab dengan suara sedih, kudengar orang disebelah ayahku berkata “ da[20]..
bangun daa, “.
Aku
langsung bergegas menuju tempat perizinan, ke rumah Ust. Sutrisno ahmad,
Assalamu’alaikum
Wa’alikum
salam, ada apa ? duduk duduk ?
Begini
ustad , ibu saya lagi sakit, lagi sekarat sekarang, saya mau minta izin pulang,
Rumah
kamu dimana ?
Palembang
ustad,
Wah kalau kamu pulang naik mobil, 3
hari baru sampai, hanis diperjalanan, ini mau khutbatul ‘arsy,wajib hadir,
kalau tidak bisa dicoret dari daftar mahasiswa nama kamu,
Aku
terdiam, tiba-tiba telpon berdering kembali, ayahku menelepon
“sep, ibu la laju itu sep” [21]
Mataku berkaca kaca, air mataku tak terbendung
lagi,sambil berkata ‘’ ustad, ibu saya sudah meninggal, saya mohon izin untuk
pulang ustad’’
‘’Ya tapi kamu harus ikut khutbatul ‘arsy, kalau
gak nanti kamu bermasalah, sambil memberikan surat izin pulang. »
Ya ustad, syukron,
assalamu’alaikum wr.wb
Tanpa memikirkan
resiko, dalam hati dan pikiran ku hanya satu, ingin pulang, aku rindu ibuu…..
Air mata ini tak bisa ku seka lagi,
sampai dikamar, sup tolong kasihin ke BAAK ya, ana izin pulang, ibu ana
ninggal. Dengan mengambil tas kecil dan baju dibadan aku langsung berangkat
menuju terminal, kebetulan aku diantar akim, teman sekelas, aku berangkat
menuju solo, disana cak lus, adik kandung ibuku menunggu, rencananya kami akan
pulang bersama sama, tak ada kata kata sepanjang perjalanan hanya air mata yang
terus keluar,
Air mata ini menyeret ku pada kenangan bersama
ibu, terakhir aku merasakan pelukan nya ketika mengantar ku ke loket mobil,
waktu itu aku akan berangkat kuliah ke ponorogo, memelukku dengan mata memerah,
dan keluar air mata, sambil membisikkan “ rajin rajin belajar, jika kau
pandai meniti bui, selamat lah jalan” .
Ibuku adalah pahlawan yang pertama kali
akan kusebut jika aku ditanya “ siapa pahlawan sejati ?” . dengan penuh
gigih berjuang demi anaknya, tujuan nya hanya satu, agar anak-anak nya tidak
mengalami nasib sepertinya.”
Suatu hari sambil mengupas kelapa, ibu
berkata padaku padaku, jika kamu berhasil nanti, adik mu berhasil, ibu
akan senang hati, ibu tidak akan minta apa pun dari kalian, jika kalian
memberi, ya ibu terima. Aku hanya tertegun mendengarnya, dia begitu
ikhlas, pandai mengatur segala hal. Memang ibuku tidak sekolah seperti ibu
kalian kawan,mungkin ada yang sampai sarjana, ibuku hanya lulusan SR, pernah
mengenyam SMP 1 tahun, namun karena tidak adanya biaya, maka harus putus
sekolah. Namun itu bukan masalah, meskipun hanya lulusan SR, dia mampu melewati
masa masa sulit, membantu ketiga adiknya, mengarungi roda kehidupan apalagi
yang namanya mengatur keuangan, ibu jagonya. Tau mana yang harus dibeli dan
mana yang harus ditunda dahulu.
Pernah suatu hari ayah mengutarakan kepada ibu,
bahwa ingin membeli motor baru tapi kredit, jawab ibu, “ nanti dulu, kita
tabung dulu, jangan kredit, lagi pula Epri lagi butuh uang buat kebutuhan, biarlah
rumah mau roboh asal anak kita jangan sampai telat bayaran sekolah.
Ini sedikit kisah dariku kawan.., hanya
sedikit yang dapat kuceritakan. Jika mengingat apa yang ibu lakukan terhadapku,
aku selalu ingin meneteskan air mata, begitu besar jasa jasa yang telah
diberikan kepada kita kawan, namun yang terpenting adalah mampukah kita
membalas jerih payah mereka, mengganti tetesan keringat mereka dengan
keberhasilan kita ? , ibuku telah pergi, ketika aku belum mampu membalas
air keringat beliau dengan air mata keberhasilanku.
Kehilangan seorang ibu merupakan hal
yang menyakitkan kawan…, tidak ada lagi yang mendo’akan kita, menasehati kita,
bagiku, motivator terhebat sekalipun tidak ada bandingannya jika dibandingankan
dengan nasehat ibu, nasehat ibu lah yang sakti. tidak ada lagi yang
menyambut kita ketika pulang dari tanah perantauan, kita tidak bisa lagi
mencicipi masakan ibu. Betapa bangga nya seorang ibu ketika kita pulang dari
perantauan.
Untuk kawan – kawan yang masih memiliki
ibu, bersyukurlah, hargailah, pelukklah, jangan sampai dia kecewa dan
meneteskan air mata kesedihan.sampai proses pemakamannya pun aku tidak sempat
menyaksikannya, karena masih diperjalanan.
[1] Bagaimana ( bahasa daerah di Palembang,
tepatnya di kabupaten OKU,baturaja Kecamatan Peninjauan Desa Lubuk
Rukam/espetiga )
[2]
kamu
[3]
bapak
[4]
semua
[5]
nenek
[6]
kakek
[7]
Tidak ada
[8]
baguslah
[9]
Adik, adikku yesi
[10]
Tidak apa apa
[11]
kemarin
[12]
mencari
[13]
Jangan seperti
[14]
Nyadap, petani karet
[15]
Susah disuruh, malas, adikku memang males kalau disuruh, dia menginjak kelas 1
smp, namun sudah bisa bantu masak, seperti membersihkan ikan, numis sayur, dll
[16]
biarkan
[17]
susah
[18]
Panggilan untuk saudara dari ibu atau bapak, untuk saudara bungsu dipanggil cik
[19]
Orang orang sudah berkumpul dirumah
[20]
Nama panggilan ibuku, nama lengkapnya Zaida bin Syamsul Syarif
[21]
Laju : lanjut, maksudnya ibu sudah meninggal
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar